‹ Kembali

Profil Penulis

Tafrid Huda Nurrochim

Profil Penulis ‹ Kembali

Tafrid Huda Nurrochim

Halo, nama lengkapku Tafrid Huda Nurrochim. Nama asli pemberian bapak, penuh doa dan religius walaupun aku kurang tahu arti kata Tafrid. Well, tapi tetap saja nama itu menempel sampai sekarang. Disukuri saja toh gak jelek-jelek amat, lagian kalau mau urusan ganti nama ribet.  Anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Gunungkidul di tanggal 4 bulan Oktober dan menghabiskan masa kecilku di Semin, Gunungkidul.  Bersekolah di SD Semin 1, SLTP N 1 Semin dan SMA 1 Wonosari. Aku pernah kuliah di AKINDO dan Universitas Mercubuana Jakarta dan dari keduanya sukses mendapat gelar DO. Artinya keduanya memang tidak pernah aku selesaikan. Frustasi dengan dunia perkuliahan akhirnya aku memutuskan untuk melarikan negeri ke negara seberang. Brunei Darusallam. Awalnya agak gengsi menjadi TKI, karena aku pikir aku adalah bekerja sebagai tenaga ahli dalam bidang broadcasting yaitu video editor dan kameramen. Tapi setelah sadar bahwa Tenaga Ahli Indonesia itu tidak enak untuk disingkat akupun menerima saja nasibku menjadi TKI. Toh menjadi TKI ternyata tak senista yang banyak diberitakan.

Tiga tahun di Brunei aku rasa cukup untuk menimba sebuah kedewasaan, kembali ke Indonesia kemudian membuka portal wisata Gunungkidul yaitu www.gunungkidultourism.com, mendirikan Kaos GEKA (Gunungkidul Unofficial Merchandise) untuk membantu menggiatkan kepariwisataan di Kabupaten Gunungkidul. Selain itu kini aku kembali mengejar gelar sarjana di STP AMPTA Yogyakarta. Kegiatan sehari-hari selain pergi-pulang dari Semin ke Jogja adalah meluangkan waktu untuk sepakbola. Sembari selalu menyempatkan untuk menulis naskah-naskah baru. Kenapa menulis? Menulis adalah sarana paling mudah untuk meliarkan imajinasi dalam otak. Aku yakin kita semua gak cukup beruntung untuk mempunyai bakat di bidang musik, melukis bermain biola, sepak bola, menjadi seniman dan yang lainnya. Semua orang yang lulus SD pasti bisa menulis. Inilah satu-satunya cara paling mudah untuk menyambung hidup kita. Kita bisa mati dalam umur berapapun, namun tulisan karya kita tidak akan pertama. Pembeda antara zaman sejarah dan prasejarah adalah sejak ditemukan tulisan. Maka aku pikir menulis adalah cara meninggalkan zaman prasejarah dalam diri kita. Dear Gita adalah novel pertamaku yang aku sendiri lebih senang menyebutnya sebagai sebuah memoar. Impianku adalah bisa menulis novel seperti The Da Vinci Code karangan Dan Brown dengan setting di DIY. Penyimak musik Efek Rumah Kaca, Mellancholic Bitch dan Frau. Walaupun dalam hati tetap membara senyawa Kurt Cobain. Percayalah kawan, Dalam kamus seorang lelaki yang sedang mengejar cintanya, tak akan ada kata sia-sia.

http://tafridhuda.com/

Social Media Penulis

Facebook Twitter

comments powered by Disqus
Loading