‹ Kembali

Profil Penulis

Yuli Pritania

Profil Penulis ‹ Kembali

Yuli Pritania

Perempuan kelahiran Padang, 15 Juli 1991 ini hanya memiliki tiga jenis karier yang diminatinya: penulis, editor dan penerjemah, dan akhirnya dua karier pertama sudah berhasil digelutinya saat ini. Mulai iseng menulis sejak SMP dengan mencoreti buku dan hanya dibaca oleh teman-teman dekatnya, akhirnya mulai tergila-gila dengan Super Junior pada akhir 2010, kemudian aktif menulis fanfiction tentang boyband Korea itu di blognya sendiri pada Januari 2011; untuk pertama kalinya membiarkan karyanya dibaca orang banyak. Cinta membaca, tapi lebih cinta lagi bercerita melalui kata-kata dan sejak SMP tidak memiliki rencana masa depan lain selain menjadi seorang novelis yang karyanya dicintai banyak orang.

Buku pertamanya, Four Seasons Tales, diterbitkan oleh Bentang Belia pada Desember 2012, lalu berlanjut dengan diterbitkannya 2060 Book 1 & 2, berikut On(c)e dan Colover di Grasindo.

Penulis yang sangat menggilai karya-karya JD Robb, Dan Brown, Rick Riordan, dan Windry Ramadhina ini mencintai segala kisah tentang pagi, matahari terbit, cinta pada pandangan pertama, dan kopi, sehingga hal-hal ini akan banyak ditemukan di dalam setiap novelnya. Menyukai novel-novel bergenre romantic suspense, fantasi, dan cerita-cerita detektif, tapi hanya menaruh minat pada tontonan bertema romantis.

Perempuan satu ini sangat anti dengan kamera, jadi maklum saja jika tidak menemukan satu foto diri pun di semua akun pribadinya, karena foto yang dia miliki hanyalah foto ijazah dan foto KTP yang dianggapnya epic fail. Sifatnya yang sulit bergaul dengan orang baru dan suka berbicara to the point membuat orang-orang yang tidak mengenalnya menganggapnya dingin dan jutek, padahal hanya dibutuhkan topik pembicaraan yang tepat untuk menjadikannya ramah dan menyenangkan. Hanya saja dia memang lebih suka bersembunyi di balik karya-karyanya, memilih memisahkan dunia pribadi dengan dunia tulis-menulis yang dia geluti.

Bercita-cita menulis novel thriller dengan karakter psikopat, tapi harus menggesernya jauh-jauh saat menyadari ada belasan naskah terbengkalai yang menuntut diselesaikan di laptopnya. Menganggap bahwa dia belumlah resmi menjadi penulis sebelum berhasil merilis novel Indonesia pertamanya, penulis satu ini mengakui tidak pernah sekali pun kehabisan ide dan mengalami writer’s block, bahkan sampai pada tahap di mana dia membenci setiap ide yang masuk ke otaknya, karena itu hanya berarti satu hal: semakin menumpuknya jumlah naskah yang tak terselesaikan.

http://sapphireblueoceanforsuju.wordpress.com/

Social Media Penulis

Facebook Twitter

comments powered by Disqus
Loading